Tuesday, May 16, 2006

Dollar-Rupiah, Ada Apa?

Senin, 15 Mei 2006, rupiah terjun bebas dari level 8.765 ke 9.100 perdollar AS. Indeks harga saham gabungan ambruk 96 poin. Sungguh lebih dahsyat dari "bom Bali". Padahal, kaum hiperbolis baru saja memaparkan bahwa IHSG akan tancap gas ke 1.700 dan rupiah ke 8.300.

Muncul pula pernyataan bahwa penyebab "malapetaka" itu adalah keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Ada apa sesungguhnya yang terjadi? Sejak memasuki milenium ini, dunia dihantui kepincangan global.

Defisit perdagangan AS yang terus melembung hingga mencapai 800miliar dollar AS atau sekitar 6 persen dari produk domestik bruto AS saat ini telah lama menyimpan lava panas. Ketika euro merapat ke 1,30 dan yen bergerak elok di 110 serta poundsterling Inggris bergerak ke1,90, awan panas mulai menutupi langit dollar.

Anehnya, saat dollar bergerak loyo terhadap hard currencies justru rupiah, baht Thailand,dan peso Filipina yang terbilang soft currencies melemah. Kenapa? Nilai tukar memang selalu jatuh bangun dan sulit ditebak. Bukankah ini zero-sum game? Kenapa harus repot-repot?

Zaman telah berubah.Zero-sum game berlaku ketika emas masih dijadikan standar oleh bank sentral untuk mencetak uang. Negara dengan surplus perdagangan akan kebanjiran emas. Ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi akan memicu inflasi.

Di negara defisit, terjadi kebalikannya. Melalui perubahan harga relatif dalam kancah ekspor-impor, neraca perdagangan kembali seimbang. Zero-sum. Sejak Bretton Woods tumbang tahun 1973, tak ada lagi konsep zero-sum game. Pertanyaannya, apa yang akan terjadi bila dollar terdepresiasi tajam akibat tumpukan defisit AS. Jawabannya, bukan mustahil akan terjadi kontraksi ekonomi di seluruh dunia.

Untuk memahami hal ini, perlu diingat depresiasi nilai tukar adalah guncangan positif bagi sisi permintaan dan negatif bagi sisi penawaran dalam ekonomi. Positif karena barang-barangnya menjadi lebih kompetitif di pasar dunia dan negatif karena harga impor meningkat.

Kontraksi ekonomi global dapat terjadi karena saat ini AS sedang mengalami kendala suplai (supply-constrained), sedangkan negara-negara lain sedang mengalami kendala permintaan (demand-constrained).

Dengan harga minyak di atas 70 dollar AS per barrel, mesin- mesin produksi di AS sulit berputar cepat untuk memenuhi permintaan atas barang-barangnya dan tingkat pengangguran sudah mencapai titik terendah dalam sejarah ekonomi AS. Maka, harapan depresiasi dollar akan menggenjot ekonomi AS sangat kecil karena adanya supply-constrain.

Jepang sebagai lokomotif kedua di dunia juga tak akan dapat membantu. Negara samurai itu masih saja berada dalam jebakan likuiditas(liquidity-trap). Bank sentral Jepang tak mungkin menurunkan sukubunga untuk menggenjot permintaan domestiknya karena masih berada dalam kisaran nol persen. Justru itu yen melesat di tengah munculnya tanda-tanda inflasi karena kemungkinan suku bunga naik lebih daripada turun. Eropa pun demikian, masih dihantui demand-constrained, sementara selisih suku bunga ECB dan The Fed makin tipis.

China sebagai biang kerok terbesar dalam defisit AS mentok dan serba kagok. Dengan pertumbuhan ekonomi nyaris 10 persen tiap tahun, meningkatkan permintaan domestiknya berarti membawa ekonominya keatas kompor mendidih alias overheating yang pada gilirannya akan menggelembungkan kredit macet yang sudah menggunung di negeri pangsit itu.

Kebijakan paling tepat bagi China adalah membiarkan mata uangnya menguat terhadap dolar AS. Problemnya, China sangat takut ekspornya ikut mendongkrak inflasi yang bergerak agresif ke atas.

Apresiasi yuan bagi China, celaka.

Kesimpulannya, depresiasi dollar secara drastis akan menyebabkan ekonomi global mengerut. Apalagi ada tanda-tanda bahwa upah buruh di AS telah melampaui titik tertinggi yang dihalalkan oleh kondisi full-employment.

Jatuhnya dollar secara drastis juga akan menciptakan spiral gaji-harga (wage-price spiral) di AS. Ini pasti akan memaksaThe Fed menaikkan lagi suku bunga dengan konsekuensi kontraksi ekonomi AS.

Apalagi pasar perumahan di sana, yang selama ini diandalkan untuk menopang ekonomi, mendingin dengan suku bunga TheFed sebesar 5 persen. Skenario buruk inilah yang membuat fluktuasi dollar semakin heboh terhadap semua mata uang.

Bagaimana rupiah? Sejak awal rupiah menguat terhadap dollar, kita sudah yakin penyebabnya adalah hot-money yang mencari selisih suku bunga setinggi mungkin. Secara fundamental, rupiah tak bisa dihalalkan pada posisidi bawah 9.000 per dollar AS, apalagi 8.300. Belum ada yang spektakuler dengan ekonomi Indonesia.

Apakah ambruknya rupiah Senin lalu karena keputusan Bank Indonesia(BI) menurunkan suku bunga SBI? Salah! Elastisitas selisih suku bunga dollar-rupiah sudah mendekati nol. Terbukti rupiah tetap tegar hingga Jumat minggu lalu. Kalau BI tidak percaya, coba saja rolling-regression. Pasti mean squared error hasil regresi itu semakin tebal ,koefisien betanya melorot, dan "R-kuadrat" menurun.

Yang sangat mungkin menjadi pemicu ambruknya rupiah secara tiba-tiba adalah paras pekulan yang melakukan carry- trade ke Indonesia, Thailand, danFilipina lewat mata uang Jepang dan Eropa.

Begitu mereka melihat dollar terpelanting terhadap hard currencies seperti euro, yen, dan poundsterling Inggris, mereka harus secepat mungkin menutup (squaring) posisi short mereka dalam euro, yen, dan poundsterling dan peso Filipina.

Sebab, tampak jelas, saat dollar melemah terhadap hard currencies, ia menguat terhadap soft currencies.Pertanyaannya, mengapa rupiah terpuruk 3,40 persen pada hari itu, sedangkan baht dan peso hanya satu persen?

Ini tidak terlepas dari jumlah hot-money yang masuk ke negeri ini. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan yang masuk ke Thailand dan Filipina karena instabilitas politik di sana. Maka, serangannya pun lebih hebat.

Di samping itu, banyak "ocehan-ocehan" untuk membayar utang ke IMF karena cadangan devisa berjumlah 41 miliar dollar AS dianggap sangat memadai. Ini membuat spekulan merasa ekstra tidak nyaman.

Mereka khawatir uang panas mereka dipakai untuk bayar utang.S ekarang yang perlu diwaspadai adalah kebijakan BI. Jangan sampai BI berusaha menahan rupiah dengan suku bunga.

Bukan mustahil pasar obligasi dan saham akan panik dan duit panas berhamburan kembalike "kampungnya" setelah menangguk untung besar di negeri ini.

Dalam konteks kepincangan global yang momentumnya digunakan paraspekulan carry- trade inilah, kita harus memahami jatuh-bangunnyarupiah. Bukan soal suku bunga.

Oleh Ferry Latuhihin
Chief Economist BII

sumber : kompas, rabu, 17 may 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home