Monday, May 22, 2006

Martabat Nasional dan Globalisasi

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini hampir bersamaan waktunya dengan ulang tahun sewindu reformasi. Proses reformasi telah menghasilkan banyak kemajuan, utamanya di bidang politik.

Demokratisasi yang sangat maju telah membuat Indonesia diakui sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Sayangnya di bidang ekonomi belum terlihat isyarat yang cukup meyakinkan bagi kebangkitan ekonomi nasional.

Malahan pendapatan riil rakyat terus menurun, tingkat pengangguran meninggi, pertumbuhan ekonomi masih rendah. Banyak kalangan merasa galau melihat pujian untuk kemajuan demokrasi yang dialamatkan negara-negara barat ke Indonesia, tetapi arus modal dan investasi jangka panjang (foreign direct investment/FDI) diarahkan barat ke China dan Vietnam.

Amat sedikit yang mampir keIndonesia, itu pun mayoritasnya masuk ke portfolio investment yangberjangka pendek. Sungguh kita amat tertinggal untuk memetik manfaat proses globalisasi ekonomi yang sedang berlangsung ini.

Sesuatu yang terasa ironis bagi kita yang memiliki potensi amat besar dan mengingat setiap pemerintahan telah berusaha untuk mengundang investor dari luarnegeri dan bersikap teramat ramah kepada pihak asing.

Tanpa bermaksud antiasing, banyak pihak yang makin terusik menyaksikan kebijakan-kebijakan ekonomi negara kita yang cenderung bersandar pada kekuatan asing.

Mengobral aset ekonomi

Mahathir Mohamad, mantan PM Malaysia, dalam sebuah forum di Jakarta beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa modal asing merupakan andalan dalam pembangunan Malaysia di fase awal, tetapi makin lama masyarakatnya yang menjadi semakin sejahtera tampil sebagai kontributor utama pendanaan pembangunan negara.

Indonesia menghapus begitu banyak sektor dari daftar negatif investasi untuk investor asing tanpa memperkuat pengusaha lokal, mengobral aset ekonomi amat prospektif dengan harga amat murah, serta membiarkan berbagai kebijakan ekonomi ikut diatur konsultan asing yang ditempatkan di berbagai instansi pemerintah selama bertahun-tahun.

Sementara itu, sektor riil tidak berkembang, pengusahaIndonesia tidak tumbuh apalagi berkembang karena mahal dan seretnya kredit. Ironisnya kitalah yang membayar mereka dengan utang luarnegeri dan aneka bantuan program yang mereka berikan.

Dalam pengamatan saya, kebijakan ekonomi Indonesia lebih terbuka daripada China dan Vietnam. Kedua negara itu berusaha sungguh-sungguh agar mayoritas kegiatan ekonomi dikuasai warga negaranya sendiri, disamping menghindari intervensi asing dalam kebijakan ekonomi negaranya.

Keterlibatan asing yang terlalu jauh dalam perekonomian nasional baru menyentak kita ketika John Perkins menguraikan dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man, menjelaskan peranannya sebagai agen perusak ekonomi yang beroperasi di Indonesia untuk menjadikan perekonomiannya tergantung dan dikuasai asing dengan berkedok sebagai konsultan pemerintah.

Lebih mengejutkan lagi karena dikatakannya, ada konspirasi melibatkan lembaga-lembaga internasional yang selama ini kita percayai akan membantu kita keluar dari krisis. Selain oleh pemerintah negaranya, agen-agen perusak ekonomi juga kerap digunakan oleh kekuatan kapitalisme global (MNC).

Kerusakan yang diarahkan oleh para agen perusak ekonomi tidak main-main karena telah membuat negeri kita terlilit utang, rakyatnya miskin, semakin tergantung pada impor dan menjauhkan kita dari cita-cita untukmenjadi bangsa modern yang mandiri.

Menikmati jadi klien

Dalam semangat memperingati Hari Kebangkitan Nasional ini, saya ingin mengajak kita semua sebagai bangsa untuk berkontemplasi menyikapi persoalan ini. Letak geografis, kekayaan alam, dan potensi pasar amat besar negara kita amatlah memikat untuk dikuasai bangsa-bangsa lain, secara langsung melalui penjajahan seperti di masa lalu, maupun secara tidaklangsung di era modern ini.

Dunia penuh dengan "siasat-menyiasati" dan dalam era globalisasi ini upaya menyiasati bangsa yang lengah muncul dengan metode yang semakin canggih. Dalam mengambil manfaat dari globalisasi, diperlukan mentalitas baru dan reorientasi kebijakan pengelolaan negara demi meningkatnya kesejahteraan rakyat.

Kebangkitan ekonomi nasional mensyaratkan keberanian untuk melakukan perubahan fundamental dalam orientasi dan sikap mental kita terhadap pengelolaan ekonomi bangsa. Kelambanan perkembangan ekonomi kita selama ini merupakan buah dari sikap kita yang inferior.

Prof Dr Ir Frans Mardi Hartanto dari ITB dalam makalahnya menyatakan bahwa bangsa kita, sebagaimana banyak bangsa yang pernah lama dijajah cenderung, memiliki mentalitas inferior terhadap orang asing yang lebih maju (Barat).

Akibatnya pola interaksi yang berlangsung berkecenderungan menjadi hubungan patron-klien, yaitu hubungan yang bersifat tidak setara, di mana ada pihak yang merasa perlu dilindungi oleh pihak yang lain.

Pihak yang merasa perlu dilindungi adalah "Klien", sedang yang melindungi adalah "Patron"-nya. Hubungan ini tidak selalu bersifat eksploitatif, tetapi mudah sekali berkembang ke arah itu.

Dalam tataran hubungan antarnegara, negara "patron" cenderung mendikte dan menggurui negara "klien". Bila membantu negara "klien", negara "patron" merasa dirinya sebagai donor yang dermawan.

Globalisasi menjadi masalah besar bila hubungan antarnegara masih bersifat Patron-Klien yang tidak setara karena globalisasi menjadi media eksploitasi. Celakanya, bukti empiris menunjukkan bahwabeberapa negara "klien" justru menikmati kedudukannya sebagai pihakyang perlu "dibantu".

Mampu membayar kembali hutang dan bantuanb erikut segala kewajiban lainnya dianggap prestasi oleh negara "klien" sehingga berutang terus-menerus dalam jumlah yang makin besar bukan merupakan aib, tetapi justru dianggap sebagai keberhasilan.

Begitu juga dengan kecenderungan memberi konsesi aneka pertambangan pada asing. Dapat disimpulkan bahwa permasalahan globalisasi bukan semata-mata kesalahan keinginan mendominasi dari negara patron, tetapi kesalahan terbesar justru ada pada negara "klien" yang menikmati "ketergantungannya".

Negara "patron" tidak dapat dicegah menggunakan kelebihannya untuk mencari manfaat dari negara "klien", tetapi negara "klien" dapat bangkit dari keterpurukannya dengan membongkar belenggu hubungan Patron-Klien ini dengan membangun kemandirian, kepercayaan diri, dan melepaskan ketergantungan pada negara "patron".

Inilah yang dilakukan oleh negara-negara yang sukses, seperti KoreaSelatan dan Singapura, yang sekarang bisa berdiri sejajar dengan negara-negara Barat. Menangnya Hamas di pemilu legislatif Palestina, Ahmadinejad di pemilu presiden Iran, nasionalisasi aset migas Boliviadi bawah Evo Morales, dan aset migas Venezuela di bawah Hugo Chavez menunjukkan meningkatnya protes masyarakat dunia terhadap kondisi "Patron-Klien" dalam hubungan antarnegara.

Inferioritas kita sebagai bangsa telah membuat para agen perusak ekonomi bergerak leluasa. Ketidakpercayaan diri telah menciptakan situasi yang miskin wawasan, inisiatif dan inovasi dalam merancang pembangunan ekonomi.

Kekosongan inilah yang diisi oleh kepentingan MNC dan pemerintah asing melalui agen-agen perusak ekonomi. Kecerdikan mengelola peluang Hari Kebangkitan Nasional ditetapkan pada hari kelahiran gerakanBoedi Oetomo, sebuah gerakan untuk memajukan akal budi (pendidikan)rakyat.

Apabila kita sungguh menghargai makna Hari Kebangkitan Nasional, selayaknya bila kita tidak menyerah pada fakta bahwa di dunia yang penuh dengan persaingan ini, banyak pihak ingin menyiasati kita.

Yangharus kita lakukan adalah membuat diri kita tidak bisa diakali oleh konspirasi asing. Kita perlu memiliki ketahanan nasional yang tangguh, yang mampu menentukan sendiri cara, kontrol, skema, waktu, dan jenis keterbukaan kita pada dunia, serta menggunakan setiap peluang berinteraksi dengan dunia sebagai kesempatan untuk memajukan bangsa dan negara kita.

Era globalisasi perlu dihadapi dengan semangat nasionalisme yang sama kuatnya seperti saat negara-negara lemah melawan penjajahan zaman dulu. Nasionalisme era sekarang perlu diwujudkan dalam kecerdikan mengelola peluang yang timbul dari globalisasi, dengan semangat meningkatkan kesejahteraan rakyat, harkat dan martabatnya.

Globalisasi telah mengantarkan dunia ke arah persaingan antarbangsa dan negara, yang dimensi utamanya terletak pada bidang ekonomi, budaya, dan peradaban.Tinggi rendahnya harkat, derajat, dan martabat suatu bangsa semakin diukur dari tingkat kesejahteraan, budaya, dan peradabannya.

Semoga suasana memperingati Hari Kebangkitan Nasional tahun ini dapat menggugah kita untuk hidup sebagai bangsa yang bermartabat di era globalisasi ini.

Oleh Siswono Yudo Husodo
Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila

sumber : kompas, senin 22 Mei 2006

Tuesday, May 16, 2006

Dollar-Rupiah, Ada Apa?

Senin, 15 Mei 2006, rupiah terjun bebas dari level 8.765 ke 9.100 perdollar AS. Indeks harga saham gabungan ambruk 96 poin. Sungguh lebih dahsyat dari "bom Bali". Padahal, kaum hiperbolis baru saja memaparkan bahwa IHSG akan tancap gas ke 1.700 dan rupiah ke 8.300.

Muncul pula pernyataan bahwa penyebab "malapetaka" itu adalah keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Ada apa sesungguhnya yang terjadi? Sejak memasuki milenium ini, dunia dihantui kepincangan global.

Defisit perdagangan AS yang terus melembung hingga mencapai 800miliar dollar AS atau sekitar 6 persen dari produk domestik bruto AS saat ini telah lama menyimpan lava panas. Ketika euro merapat ke 1,30 dan yen bergerak elok di 110 serta poundsterling Inggris bergerak ke1,90, awan panas mulai menutupi langit dollar.

Anehnya, saat dollar bergerak loyo terhadap hard currencies justru rupiah, baht Thailand,dan peso Filipina yang terbilang soft currencies melemah. Kenapa? Nilai tukar memang selalu jatuh bangun dan sulit ditebak. Bukankah ini zero-sum game? Kenapa harus repot-repot?

Zaman telah berubah.Zero-sum game berlaku ketika emas masih dijadikan standar oleh bank sentral untuk mencetak uang. Negara dengan surplus perdagangan akan kebanjiran emas. Ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi akan memicu inflasi.

Di negara defisit, terjadi kebalikannya. Melalui perubahan harga relatif dalam kancah ekspor-impor, neraca perdagangan kembali seimbang. Zero-sum. Sejak Bretton Woods tumbang tahun 1973, tak ada lagi konsep zero-sum game. Pertanyaannya, apa yang akan terjadi bila dollar terdepresiasi tajam akibat tumpukan defisit AS. Jawabannya, bukan mustahil akan terjadi kontraksi ekonomi di seluruh dunia.

Untuk memahami hal ini, perlu diingat depresiasi nilai tukar adalah guncangan positif bagi sisi permintaan dan negatif bagi sisi penawaran dalam ekonomi. Positif karena barang-barangnya menjadi lebih kompetitif di pasar dunia dan negatif karena harga impor meningkat.

Kontraksi ekonomi global dapat terjadi karena saat ini AS sedang mengalami kendala suplai (supply-constrained), sedangkan negara-negara lain sedang mengalami kendala permintaan (demand-constrained).

Dengan harga minyak di atas 70 dollar AS per barrel, mesin- mesin produksi di AS sulit berputar cepat untuk memenuhi permintaan atas barang-barangnya dan tingkat pengangguran sudah mencapai titik terendah dalam sejarah ekonomi AS. Maka, harapan depresiasi dollar akan menggenjot ekonomi AS sangat kecil karena adanya supply-constrain.

Jepang sebagai lokomotif kedua di dunia juga tak akan dapat membantu. Negara samurai itu masih saja berada dalam jebakan likuiditas(liquidity-trap). Bank sentral Jepang tak mungkin menurunkan sukubunga untuk menggenjot permintaan domestiknya karena masih berada dalam kisaran nol persen. Justru itu yen melesat di tengah munculnya tanda-tanda inflasi karena kemungkinan suku bunga naik lebih daripada turun. Eropa pun demikian, masih dihantui demand-constrained, sementara selisih suku bunga ECB dan The Fed makin tipis.

China sebagai biang kerok terbesar dalam defisit AS mentok dan serba kagok. Dengan pertumbuhan ekonomi nyaris 10 persen tiap tahun, meningkatkan permintaan domestiknya berarti membawa ekonominya keatas kompor mendidih alias overheating yang pada gilirannya akan menggelembungkan kredit macet yang sudah menggunung di negeri pangsit itu.

Kebijakan paling tepat bagi China adalah membiarkan mata uangnya menguat terhadap dolar AS. Problemnya, China sangat takut ekspornya ikut mendongkrak inflasi yang bergerak agresif ke atas.

Apresiasi yuan bagi China, celaka.

Kesimpulannya, depresiasi dollar secara drastis akan menyebabkan ekonomi global mengerut. Apalagi ada tanda-tanda bahwa upah buruh di AS telah melampaui titik tertinggi yang dihalalkan oleh kondisi full-employment.

Jatuhnya dollar secara drastis juga akan menciptakan spiral gaji-harga (wage-price spiral) di AS. Ini pasti akan memaksaThe Fed menaikkan lagi suku bunga dengan konsekuensi kontraksi ekonomi AS.

Apalagi pasar perumahan di sana, yang selama ini diandalkan untuk menopang ekonomi, mendingin dengan suku bunga TheFed sebesar 5 persen. Skenario buruk inilah yang membuat fluktuasi dollar semakin heboh terhadap semua mata uang.

Bagaimana rupiah? Sejak awal rupiah menguat terhadap dollar, kita sudah yakin penyebabnya adalah hot-money yang mencari selisih suku bunga setinggi mungkin. Secara fundamental, rupiah tak bisa dihalalkan pada posisidi bawah 9.000 per dollar AS, apalagi 8.300. Belum ada yang spektakuler dengan ekonomi Indonesia.

Apakah ambruknya rupiah Senin lalu karena keputusan Bank Indonesia(BI) menurunkan suku bunga SBI? Salah! Elastisitas selisih suku bunga dollar-rupiah sudah mendekati nol. Terbukti rupiah tetap tegar hingga Jumat minggu lalu. Kalau BI tidak percaya, coba saja rolling-regression. Pasti mean squared error hasil regresi itu semakin tebal ,koefisien betanya melorot, dan "R-kuadrat" menurun.

Yang sangat mungkin menjadi pemicu ambruknya rupiah secara tiba-tiba adalah paras pekulan yang melakukan carry- trade ke Indonesia, Thailand, danFilipina lewat mata uang Jepang dan Eropa.

Begitu mereka melihat dollar terpelanting terhadap hard currencies seperti euro, yen, dan poundsterling Inggris, mereka harus secepat mungkin menutup (squaring) posisi short mereka dalam euro, yen, dan poundsterling dan peso Filipina.

Sebab, tampak jelas, saat dollar melemah terhadap hard currencies, ia menguat terhadap soft currencies.Pertanyaannya, mengapa rupiah terpuruk 3,40 persen pada hari itu, sedangkan baht dan peso hanya satu persen?

Ini tidak terlepas dari jumlah hot-money yang masuk ke negeri ini. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan yang masuk ke Thailand dan Filipina karena instabilitas politik di sana. Maka, serangannya pun lebih hebat.

Di samping itu, banyak "ocehan-ocehan" untuk membayar utang ke IMF karena cadangan devisa berjumlah 41 miliar dollar AS dianggap sangat memadai. Ini membuat spekulan merasa ekstra tidak nyaman.

Mereka khawatir uang panas mereka dipakai untuk bayar utang.S ekarang yang perlu diwaspadai adalah kebijakan BI. Jangan sampai BI berusaha menahan rupiah dengan suku bunga.

Bukan mustahil pasar obligasi dan saham akan panik dan duit panas berhamburan kembalike "kampungnya" setelah menangguk untung besar di negeri ini.

Dalam konteks kepincangan global yang momentumnya digunakan paraspekulan carry- trade inilah, kita harus memahami jatuh-bangunnyarupiah. Bukan soal suku bunga.

Oleh Ferry Latuhihin
Chief Economist BII

sumber : kompas, rabu, 17 may 2006

Saturday, May 13, 2006

Strategi Membuka Warung

"BANYAK Jalan Menuju Roma" begitu kata sebuah pepatah. Untuk memiliki penghasilan besar, seseorang mempunyai pilihan, menjadi karyawan atau wirausahawan (entrepreneur).

Memang ada perbedaan sikap mental mendasar antara wirausahawan dengan karyawan. Wirausahawan selalu berpikir bagaimana menciptakan peluang bisnis, sedangkan karyawan berpikir bagaimana mengerjakan pekerjaan yang ada dengan lebih baik. Karenanya wirausahawan cenderung bersikap proaktif atau tanggap terhadap perubahan yang terjadi sedangkan karyawan cenderung pasif karena terbiasa menunggu dan mengerjakan apa yang harus dikerjakan.

Membuka warung atau toko kebutuhan sehari-hari adalah ide yang sangat baik. Bahkan pembaca setia kita kali ini sudah berpikir matang dengan melakukan analisis situasi persaingan atau studi kelayakan kecil-kecilan apakah usaha warung tersebut layak atau tidak untuk dijalankan. Di sisi lain untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses adalah jangan takut risiko karena dalam setiap peluang usaha selalu terkandung unsur risiko.

Menurut kelengkapan jenis barang yang disediakan maka outlet penjualan barang dapat diurutkan dari besar ke kecil seperti berikut:

Hipermarket, misalnya Carrefour, Makro, Alfa dll.
Pedagang grosir besar
Supermarket, toko besar, pedagang grosir kecil
Minimarket, toko kecil
Warung
Kaki Lima
Masing-masing sebenarnya memiliki karakteristik konsumen yang berbeda-beda. Konsumen yang datang ke hipermarket cenderung berbelanja kebutuhan minimal satu minggu atau bahkan satu bulan. Atau mungkin para pedagang yang akan menjual kembali barang yang dibeli tersebut. Konsumen yang datang ke pedagang grosir umumnya para pedagang. Kemudian konsumen supermarket biasanya membeli untuk kebutuhan sehari-hari, demikian seterusnya. Memang pangsa pasar supermarket, minimarket dan warung cenderung berhimpitan. Tetapi sesungguhnya masih dapat dibedakan. Di tempat tinggal teman saya ada salah satu warung kecil (melihat lokasi dan ukurannya) tapi yang datang selain penduduk sekitar juga banyak para pedagang kecil yang membeli untuk dijual kembali alias menjadi semacam pedagang grosir kecil. Memang warung tersebut terkenal murah dan relatif komplet jenis barang dagangannya. Jadi walaupun warung tersebut terletak di gang sempit dan kecil, tetap saja laris dagangannya.

Apabila ingin membuka warung atau toko dengan kondisi persaingan seperti itu maka pelajari dengan baik kelengkapan barang dagangan supermarket. Apakah sudah menyediakan bahan pokok kebutuhan sehari-sehari seperti sayur- mayur, daging segar, ikan asin dan sebagainya. Bila belum, tentunya peluang untuk dapat menyediakannya. Tidak harus dalam jumlah banyak, sedikit namun bervariasi. Tentunya bila omset meningkat akan dapat disesuaikan tingkat persediaan barang dagangannya. Apabila supermarket sudah menyediakan hal itu semua, maka pelajarilah strategi harga supermarket tersebut. Perlu diketahui bahwa barang di supermarket atau bahkan hipermarket tidak selalu lebih murah. Pada dasarnya mereka melakukan praktek strategi harga murah hanya di beberapa jenis barang, khususnya barang-barang yang menjadi bahan kebutuhan sehari-sehari seperti susu, gula pasir, kopi dan sebagainya. Namun di sisi lain mereka melakukan strategi harga yang lebih tinggi atau tingkat keuntungan yang lebih tinggi di banyak jenis barang yang bukan merupakan barang kebutuhan pokok. Sehingga secara umum tingkat keuntungan mereka dari setiap jenis barang berkisar dari 0% sampai dengan 15%. Bahkan untuk makanan kecil untung mereka dapat mencapai lebih dari 50%. Pada umumnya kita tidak tahu pada jenis barang mana mereka lebih murah, dan jenis barang mana yang lebih mahal. Perhatikan betul saat mereka melakukan promosi penjualan barang dan lakukan perbandingan harga dengan mengecek harga barang yang tersedia di berbagai supermarket dan hipermarket.

Supermarket dan hipermarket memang secara umum dapat menjual barang secara lebih murah karena :

Melakukan pembelian barang dalam jumlah lebih besar sehingga mendapat potongan harga yang lebih besar dari pemasok khususnya untuk hipermarket. Mereka biasanya melakukan negosiasi langsung dengan pabrikan atau pembuatnya secara langsung sehingga akan memotong biaya distribusi.
Kebijakan dari pemasok barang yang memberikan potongan harga lebih besar kepada supermarket dan hipermarket.
Biasanya mendapatkan kredit barang dari penjual selama periode tertentu.
Teknologi informasi di mana supermarket dan hipermarket dapat segera melakukan penyesuaian harga dari waktu ke waktu dimana pada saat sepi mereka melakukan strategi harga murah dan pada saat ramai mereka dapat menaikkan harga.
Untuk bersaing dengan supermarket jelas selalu mungkin, asalkan jeli dan bisa membidik calon pelanggan yang berbeda atau bahkan pelangggannya sama dengan strategi menyediakan lebih banyak jenis variasi barang dagangan yang berbeda dengan yang dijual di supermarket. Tidak semua barang kebutuhan sehari-hari supermarket mau menyediakannya dengan berbagai alasan atau kendala yang ada. Maka manfaatkan betul hal tersebut. Penentuan harga barang yang Anda jual dimana jenis barangnya sama dengan yang dijual di supermarket tentunya harus tetap dapat bersaing. Dalam arti bila warung kita tidak bisa lebih murah, maka jangan terlalu memiliki perbedaan harga yang mencolok sehingga konsumen lebih senang berbelanja di supermarket walaupun lebih jauh. Amati juga lingkungan sekitar misalkan apakah tempat tinggal Anda dekat dengan sekolah misalnya ? Apabila dekat maka amati kebutuhan mereka yang dapat diperkirakan berkisar minuman, makanan ringan, buku tulis, alat tulis dan lain-lain. Dengan kondisi seperti itu maka variasikan barang dagangan Anda dengan memanfaatkan kebutuhan calon konsumen warung Anda. Hal ini dapat dilakukan misalkan dengan menyediakan teh botol, es serbuk instan, es teh, es jeruk, makanan ringan, makanan tradisional dan lain-lain. Sehingga selain mereka dan konsumen sekitar warung, membeli es, jajanan dan lain-lain mereka akan teringat kebutuhan lain misalkan sampo, sabun, gula pasir dan lain-lain yang akan meningkatkan penjualan warung Anda. Pelayanan Anda juga harus selalu ramah terhadap pembeli. Hal ini biasanya sering dilupakan oleh para pedagang kecil. Pembeli atau pelanggan adalah manusia-manusia yang senang diperlakukan sebagai raja. Keputusan untuk berbelanja bagi kebanyakan orang selain karena faktor lokasi, harga barang, kenyamanan dan lain-lain maka layanan yang cekatan, tegur sapa yang baik, senyum, tampilan warung yang bersih dan lain-lain juga memegang peranan penting. Hal penting lainnya adalah ketrampilan Anda dalam mencari pemasok barang yang dapat menyediakan harga pokok barang dagangan yang lebih murah. Perhatikanlah iklan-iklan hipermarket seperti Carrefour, Makro dan lain sebagainya, seringkali mereka mengadakan promo dengan harga yang sangat murah atau kalaupun harganya sama mereka melakukan strategi penjualan paket. Apabila Anda jeli melihat peluang yang ada maka membeli barang-barang tersebut akan lebih murah dan bila dijual secara eceran tentunya akan lebih menguntungkan. Perhatikan juga toko-toko atau pedagang grosir yang ada, apabila mereka laris dan mempunyai banyak pelanggan para pedagang maka biasanya harga barang mereka cenderung murah, sehingga Anda dapat membeli persediaan barang dagangan dari grosir-grosir tersebut. Tetapi Anda harus sering melakukan cek harga pasar dan membandingkan harga antar grosir-grosir yang ada. Biaya transportasi juga harus menjadi perhatian dimana hal ini mungkin akan membebani harga pokok barang yang dibeli.

Bila Anda jeli dan pintar dalam berdagang maka sesungguhnya supermarket bukan merupakan suatu ancaman yang harus ditakuti kecuali letaknya berhimpitan dengan warung Anda. Jarak 500 meter sesungguhnya relatif cukup jauh sehingga kemungkinan orang berbelanja ke warung Anda masih sangat besar. Memang supermarket biasanya membidik konsumen dalam jangkauan radius 1.5 km di sekitar supermarket tersebut berada. Hal yang perlu diketahui adalah bahwa biaya operasional sebuah supermarket tentunya akan lebih besar daripada biaya operasional sebuah warung. Dari sisi risiko, berdagang barang kebutuhan sehari-hari sesungguhnya memiliki risiko yang relatif kecil karena seumpama tidak laku pun minimal dapat dikonsumsi sendiri. Manfaatkan juga saluran telefon yang mungkin dimiliki untuk menjadi wartel sehingga sambil menjaga warung dapat juga melayani kebutuhan komunikasi warga sekitar. Prinsipnya adalah manfaatkan secara maksimal seluruh potensi yang ada. Sediakan barang atau jasa yang dapat segera laku dijual dan mendatangkan untung. Tentunya semua itu harus memperhatikan norma dan kaidah masyarakat setempat.

Apabila Anda memutuskan untuk berbisnis warung maka usahakan agar sesedikit mungkin melakukan investasi dalam bentuk bangunan ataupun peralatan. Usahakan sebanyak mungkin dalam barang dagangan yang memang banyak dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Mesti diingat bahwa keuntungan berdagang kebutuhan sehari-hari secara umum berkisar 5% dari harga pokok. Berdagang barang kebutuhan sehari-hari akan sangat mengandalkan omzet dan bukan tingkat keuntungan. Sebagai ilustrasi katakan omzet penjualan Anda per hari adalah 500 ribu maka secara kasar keuntungan rata-rata yang dapat diperoleh adalah 5% x Rp. 500 ribu = Rp. 25 ribu. Apabila Anda mengambil keuntungan rata-rata 10% dari harga pokok maka kemungkinan besar warung akan ditinggalkan para pembeli. Prinsipnya mengambil tingkat keuntungan yang lebih kecil namun dengan omzet yang sebesar-besarnya. Jadi strategi harga masing-masing jenis produk harga harus diperhatikan dengan benar. Berdagang barang kebutuhan sehari-hari kelihatannya sederhana, tetapi membutuhkan banyak strategi dan trik dalam memperoleh pelanggan yang banyak. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan dan keuletan dalam berdagang.

Modal sedikit bukan merupakan hambatan yang besar. Apabila sudah mendapat kepercayaan dari para pemasok barang maka Anda dapat menikmati banyak keleluasaan dari para pemasok barang berupa kredit dalam jangka waktu tertentu. Dalam perdagangan adalah sangat sulit untuk menghitung dengan pasti kapan titik pulang pokok (break even point) terlewati. Roda bisnis akan berputar terus dan akan selalu dinamis. Apabila meningkat maka tentunya Anda harus dapat meningkatkan modal kerja yang dibutuhkan karena persediaan barang yang disediakan akan semakin besar. Sehingga sebagian keuntungan yang Anda peroleh seyogianya diinvestasikan kembali ke dalam barang dagangan yang cepat laku. Demikian seterusnya. Kuncinya adalah jangan sampai pengeluaran pribadi Anda melebihi keuntungan yang Anda peroleh sehingga persediaan barang dagangan tidak menyusut atau tergerogoti. Dengan demikian maka omzet dapat ditingkatkan sehingga keuntungan pun juga akan semakin meningkat.

Selamat membuka warung dan semoga beruntung




REFRINAL

Scientific, Promotion & Consumer Research

PT AMERTA INDAH OTSUKA (POCARI SWEAT)

sumber : email

Menuju "Corporate Social Leadership"

Desakan yang semakin tinggi dari masyarakat agar perusahaan tidak menjadi entitas yang selfish, mendorong banyak perusahaan-perusahaan melakukan aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan, atau yang dikenal dengan corporate social responsibility (CSR). Kini, perusahaan berlomba-lomba untuk hadir di tengah-tengah masyarakat melalui berbagai macam program sosial yang meriah: mulai dari pemberian beasiswa, pelayanan kesehatan kepada ibu-ibu dan anak, hingga pendampingan untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan hidup.

Namun, pada pelaksanaannya banyak aktivitas CSR yang bias. Akitivitas-aktivitas yang dilakukan seringkali hanya bagian kegiatan promosi produk atau perusahaan belaka. Banyak perusahaan yang memberikan sejumlah uang dan barang kepada sekelompok masyarakat, kemudian dengan bantuan jasa pemoles citra, aktivitas tersebut disulap menjadi aktivitas tanggung -jawab sosial perusahaan.

Di tempat lain, perusahaan melakukan aktivitas community de- velopment dan community empowerment tanpa ada keinginan sedikit pun untuk membangun dan memberdayakan masyarakat. Yang ada dibenaknya hanya manajemen krisis. Intinya, bagaimana cara- nya perusahaan tidak didemo dan mendapatkan resistensi dari masyarakat.

Tulisan ini berpendapat bahwa tanpa kriteria yang jelas dan perubahan cara berpikir kita, aktivitas tanggung jawab sosial hanya akan terpuruk menjadi jargon dan akan bersifat kontraproduktif. Tulisan ini berpandangan bahwa perlu ada pergeseran pemahaman filosofis dari CSR menuju CSL (Corporate Social Leadership), sebuah bentuk kepemimpinan sosial yang jauh lebih holistik dari CSR dan yang lebih penting, dapat dilakukan oleh siapa saja-baik perusahaan multinasional, maupun perusahaan skala menengah dan kecil.

Tanggung Jawab
Walaupun hanya belakangan ini istilah CSR dikenal, sesungguhnya aktivitas community outreach atau penjangkauan masyarakat sudah dilakukan oleh perusahaan sejak dahulu kala.

Bentuk community outreach yang paling primitif adalah corporate philanthropy. Yang terakhir ini merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh perusahaan, atau seseorang, untuk memberikan dana kepada individu atau kelompok masyarakat, misalnya dalam bentuk beasiswa.

Seiring waktu berlalu, corporate philanthropy (CP) kemudian berkembang menjadi corporate social responsibility (CSR). CSR berbeda dengan philanthropy dari dimensi keterlibatan si pemberi dana dalam aktivitas yang dilakukannya. Kegiatan CSR seringkali dilakukan sendiri oleh perusahaan, atau dengan melibatkan pihak ketiga (misalnya yayasan atau lembaga swadaya masyarakat) sebagai penyelenggara kegiatan tersebut.

Yang jelas, melalui CSR perusahaan jauh lebih terlibat dan terhubung dengan pihak penerima (beneficiaries) dalam aktivitas sosial dibandingkan dengan CP. Aktivitas sosial yang dilakukan melalui CSR pun jauh lebih beragam.

CP maupun CSR biasanya melibatkan sumber daya dan dana yang cukup besar. Tak mengherankan jika CP dan CSR biasanya dilakukan oleh para miliuner atau pun perusahaan multinasional yang memiliki pendapatan yang tinggi. Oleh karena itu, banyak keengganan dari usaha menengah dan kecil untuk melakukan CP dan CSR.
Dalam praktiknya, CP maupun CSR sering dilakukan sebagai salah satu bagian dari promosi produk, atau yang sering disebut sebagai social marketing. Sayangnya, CP dan CSR juga sering dilandasi oleh semangat "cuci dosa". Banyak para pelaku corporate philanthropy adalah para miliuner yang sudah mengeruk banyak keuntungan dari bisnis yang memiliki banyak "dosa" kepada masyarakat, seperti perusahaan minyak, tembakau, dan lain sebagainya.

Filosofi yang ada di benak pelaku CP dan CSR tak lain adalah: "bekerja keras selama 6 hari, kemudian berisitirahat di hari ke-7 dengan melakukan hal-hal yang baik kepada masyarakat".

Dipahami demikian, CP dan CSR ternyata memiliki banyak kekurangan. Tak jarang masyarakat diperlakukan sebagai objek perusahaan; setelah program-program community outreach ini berakhir, budaya ketergantungan pun sering tercipta. Banyak free riders, para pialang proposal, yang rajin mengirimkan permohonan bantuan dana kepada perusahaan. Ini belum menyebut bentuk-bentuk pemerasan seperti pengerahan massa, dan ancaman-ancaman yang sering diterima oleh perusahaan.

Kepemimpinan
Hills dan Gibbon (2002) berpendapat bahwa perusahaan harus bergeser dari pemahaman CP dan CSR menuju corporate social leadership (CSL), atau kepemimpinan sosial perusahaan. CSL menaungi sebuah jalan menuju solusi win-win antara masyarakat dan perusahaan dalam sebuah bentuk partnership.
CSL menuntut perubahan cara pandang para pelaku bisnis tentang hubungan mereka dengan masyarakat. Para pelaku bisnis diminta untuk memandang aktivitas usaha yang mereka lakukan sebagai bagian dari eksistensi mereka di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu, dalam CSL perusahaan tidak lagi hanya sekadar melakukan tangggung jawab (doing the right thing) tapi juga menjadi pemimpin dalam perubahan sosial yang tengah berlangsung (making things right).
Pergeseran paradigma dalam hubungan antara sektor privat (perusahaan) dan sektor publik (masyarakat) ini tentunya memberikan peluang yang tersendiri untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah global yang simpul-simpulnya dapat diperhatikan didalam delapan poin Millennium Development Goal (MDG).

Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh sebuah aktivitas CSL perusahan. Pertama, komitmen dan perubahan paradigma. Perusahaan harus menyadari bahwa entitas bisnis adalah juga merupakan bagian integral dari komunitas global. Ada aspek moral universal yang menaungi baik individu, masyarakat, pemerintah, maupun kalangan bisnis dalam berperilaku di dunia ini. Bahwa pada kenyataannya mereka tidak boleh saling merugikan satu dengan yang lainnya adalah sebuah kenyataan moral yang tidak dapat disangkal.

Kedua, dalam merancang aktivitas CSL perusahaan harus mem- perhatikan beberapa hal esensial yang seringkali tidak diperhatikan dalam CP maupun CSR: program-program sosial yang disusun harus beriringan dengan bidang usaha yang bersangkutan. Misalnya, perusahaan jasa komunikasi tidak dianjurkan untuk mengembangkan aktivitas sosial yang jauh dari core business yang bersangkutan.
Dengan mengembangkan aktivitas yang beriringan dengan bidang usaha yang bersangkutan, perusahaan tidak perlu secara khusus mengalokasikan dana yang besar, seperti halnya pada aktivitas CP dan CSR. Perusahaan cukup mengerahkan resources yang ada dan yang tengah berjalan. Hal ini membuka peluang bagi usaha menengah dan kecil untuk juga secara aktif menyelenggarakan program-program CSL.

Ketiga, dampak positif yang dibawa oleh aktivitas CSL harus selalu bersifat berkelanjutan (sustainable). Maksudnya adalah bahwa aktivitas CSL harus selalu dirancang untuk mendorong kemandirian dan keberdayaan masyarakat (community outreach).

Oleh karena itu, program CSL harus terukur dan berada dalam kerangka waktu terentu. Ini untuk menjamin dampak positif dari kegiatan community outreach yang dilakukan dapat terus terasa di tengah-tengah masyarakat sekalipun perusahaan sudah tidak lagi secara aktif terlibat di komunitas yang bersangkutan.

Dengan transformasi paradigma menuju kepemimpinan sosial perusahaan ini, maka jalan menuju perubahan sosial melalui hubungan sektor publik, masyarakat dan sektor privat yang lebih baik menjadi terbuka. Entitas bisnis dan masyarakat dapat bersinergi untuk saling meningkatkan kesejahteraan kita semua.

Oleh Ari Margiono
Penulis adalah Senior Associate PT Maverick Solusi Komunikasi

sumber : SUARA PEMBARUAN DAILY - Kamis, 11 Mei 2006